HeadlineKalimantan TengahLamandauOpiniPalangka Raya

Petisi Cabut Gelar Putri Pariwisata Kalteng Terus Bergulir

Sosok Thisia Bianty Halijam Dianggap Tidak Memihak Masyarakat

FOTO : Randi Julian Miranda.

lensakalteng.com – PALANGKA RAYA – Petisi pencabutan gelar Puteri Pariwisata Kalimantan Tengah tahun 2020 yang disandang Thisia Bianty Halijam terus bergulir. Dalam kurun seminggu terakhir, jumlah pendukung tuntutan tersebut menyentuh angka 15.000 orang. Praktis, polemik tersebut menjadi isu hangat yang sering diperbincangkan warganet.

Praktisi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, Randi Julian Miranda yang merupakan inisiator petisi tersebut menuntut, agar gelar Thisia segera dicabut. Menurutnya petisi yang telah ditandatangani tersebut bakal disampaikan kepada pihak Putri Pariwisata Indonesia, Putera Puteri Nusantara, EL John Label hingga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah dalam waktu dekat.

“Thisia telah membuat geram warganet dengan pernyatan-pernyataanya di sosial media terkait isu Kinipan.
Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat Adat Dayak Laman Kinipan di Kabupaten Lamandau sudah bertahun-tahun berjuang mempertahankan hutan Adat terakhir mereka yang menjadi sumber dan ruang hidup bagi mereka,” ujar Randi melalui press rilisnya kepada wartawan, Rabu (30/9/2020).

Thisia Bianty Halijam selaku Puteri Nusantara 2019 sekaligus ‘Influencer’ lokal di jejaring Instagram mestinya menjadi’role model’ bagi masyarakat, bukan malah memperkeruh suasana dengan menyudutkan masyarakat Adat Laman Kinipan dan mendiskreditkan perjuangan mereka.

“Ada beberapa alasan petisi ini dibuat, pertama Thisia diduga telah mengucilkan masyarakat Adat Dayak dengan isi komentarnya ‘This not the real’ yang kami simpulkan bahwa Thisia dengan gamblang mendiskreditkan perjuangan masyarakat Kinipan dengan berkata bahwa ini tidak nyata, tanpa didukung bukti-bukti empiris,” sebutnya.

Lalu Thisia diduga telah mendukung tindakan kriminalisasi terhadap Effendi Buhing selaku pemimpin Adat Laman Kinipan dengan ujaran bahwa pak Effendi bukan memperjuangkan hak atas tanah Adat namun menginginkan uang sebesar Rp 10 miliar tanpa ada bukti empiris.

“Alasan lain, yaitu diduga menggiring opini ke arah yang “bias”. Semua statement Thisia di akun Instagramnya terkait kasus Kinipan bahkan yang baru-baru ini tentang musibah banjir terkesan bukan kesalahan aktivitas perusahaan,” katanya.

Unggahan Thisia atas banjir di Kinipan seolah menyalahkan pola hidup masyarakat di sana. Padahal sudah jelas ada pembabatan hutan di area buffer zone yang mencapai 10.000 hektare sebagai penyebab utama banjir dengan skala masif yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

“Thisia tidak pernah mau menerima undangan untuk berdiskusi secara terbuka untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang statement-statement yang ia keluarkan. Thisia bahkan mengunci fitur ‘mention’ dan kolom komentar di Instagramnya seolah tidak terjadi apa-apa dan terkesan merasa tidak bersalah,” kesalnya.

Sebelumnya Randi memang tidak mau berkomentar banyak terkait petisi tersebut lantaran masih menunggu itikad baik untuk bermediasi maupun klarifikasi dari pihak Thisia. Namun harapan itu tak kunjung terealisasi, pasalnya Thisia terkesan menghindar dan hanya meminta maaf untuk pernyataannya terkait penyebab banjir, tapi tidak terkait kasus Kinipan dan kriminalisasi Effendi Buhing.

“Bahkan si Thisia terkesan berlagak menjadi korban dengan mengunggah pesan semangat dari para pengikut Instagramnya. Thisia juga mengeluarkan statement bahwa dia tidak mau berkomentar tentang pernyataan yang ia lontarkan terkait Kinipan dan pak Effendi karena bukan ranahnya,” imbuh Randi.

Praktis saja, pernyataan Thisia tersebut langsung direspon geram dan menilai Thisia bersikap lempar batu sembunyi tangan.

“Kemarin kok dia berkomentar panjang sampai bicara pasal-pasal dan angka Rp 10 miliar sehabis penampilan pak Effendi di Mata Najwa. Sekarang kok kabur dan seolah lupa ingatan?,” pungkasnya. (agg)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: