Nasib Pers

Nasib Pers

Oleh: Sastriono BANYAK hal yang sering saya dengar, khususnya terkait Pers atau sebut saja pelakunya wartawan. Ini sebagai bahan koreksi bagi pengg

Bupati Aparatur Sipil Negara Harus Komitmen Layani Masyarakat
Ben Brahim Bangga, Polres Kapuas  Dapat Penghargaan Dari Komnas PA Dan Cepat Tangani Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak
Bupati Hadiri Pelantikan MUI Mantangai

Oleh: Sastriono

BANYAK hal yang sering saya dengar, khususnya terkait Pers atau sebut saja pelakunya wartawan. Ini sebagai bahan koreksi bagi penggiat Pers. Sekaligus mereka luar jurnalistik.

Pers itu sendiri dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) diartikan usaha percetakan dan penerbitan, usaha pengumpulan dan penyiaran berita, penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, dan radio. Pers juga lebih akrab disebut orang yang bergerak dalam penyiaran berita. Itu kata KBBI.

Momen memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2021, ada pertanyaan, bagaimana nasib Pers saat ini? Apakah mereka sejahtera? Bisa diterima semua pihak. Jangan-jangan dipandang sebelah mata. Apalagi ditengah pandemi si Covid-19.

Nasib wartawan terasa kian suram. Ditambah ada isu atau benar-benar terjadi. Wartawan kerjaannya sering mengancam, meminta uang dan lain-lain. Intinya bertindak menyalahi kode etik jurnalistik (KEJ).

Kalau itu benar. Sepertinya masih perlu belajar banyak. Dan jangan menjadi wartawan yang selalu merasa pintar. Tukang kritik tidak mau dikritik. Egois….hahaha.

Nah, terkait Pers. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985, Pers Nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting. Ini dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.

Dalam UU Pers no 40 tahun 1999, Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa. Peran Pers Indonesia dimulai sejak 13 Desember 1937 dalam rangka perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia.

Kamu merasa dirimu Pers? Ingat siapa dirimu sebenarnya. Jangan sampai diremehkan hanya karena perilaku yang menimbulkan stigma. Tidak semua wartawan itu buruk. Mungkin hanya segelintir. Tapi itu sudah cukup menciptakan stigma.

Apa stigma itu. Wartawan abal-abal. Wartawan bodrek. Banyak lagi sering didengar ocehan miring tentang Pers. Padahal wartawan itu mempunyai tugas mulia yang dilindungi undang-undang. Kalau itu benar. Ayo, yang mengaku dirinya wartawan, banyak belajar lagi ya. Termasuk saya sebagai penulis kolom ini hehehe.

Kalau perlu ikuti uji kompetensi wartawan (UKW) yang dilaksanakan Dewan Pers atau lembaga penguji yang diakui Dewan Pers. Untuk apa? Tentunya, untuk mengetahui apakah kamu layak menjadi wartawan atau tidak. Karena barometernya tidak hanya bisa menulis berita saja. Ingat, bukan hanya wartawan yang bisa menuliskan berita.

Itu mereka Dinas Kominfo juga bisa. Humas-humas intansi pemerintah dan swasta juga bisa. Jadilah wartawan yang profesional. Jangan sampai diremehkan. Senjata mu ada pada tulisan mu dan karya jurnalistik mu. Tetapi wartawan juga harus tahu aturan jurnalistik.

Untuk siapa pun yang meremehkan wartawan, janganlah. Kalau hanya lantaran memiliki pengalaman buruk dengan beberapa oknum. Seperti yang disebutkan di atas. Rangkullah Pers.

Sebab Pers saat ini melalui organisasi media dan organisasi wartawan, serta Dewan Pers juga terus berbenah. Sehingga ke depan Pers atau wartawan itu lebih baik lagi. Itu semua perlu didukung oleh semua pihak. Ingat jangan remehkan Pers. Selamat HPN 2021 dan HUT PWI ke-75.(ONO)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0
%d blogger menyukai ini: