Katingan

Tiga Hari Padam Total, Warga Katingan Teriak

KRISIS LISTRIK : Warga Kasongan beramai-ramai memanfaatkan fasilitas listrik gratis di PT. Telkom cabang Kasongan untuk sekedar mengisi daya ponsel pintarnya, Minggu (4/11).

KASONGAN,LENSAKALTENG.COM- Menyusul robohnya tiang SUTT milik PT. PLN Persero di Palangka Raya pada Kamis (1/11) malam, Katingan menjadi salah satu daerah yang paling terdampak. Kini krisis listrik sudah memasuki hari ketiga, berbagai aktivitas terganggu baik proses belajar mengajar hingga perniagaan.

M. Zulkipli (38) warga Kelurahan Kasongan Lama mengatakan, pemasukannya dari bisnis game daring Perfect World II selama pemadaman listrik dipastikan hilang.

“Kalau satu hari saja tidak absen (online, Red) maka dipastikan saya rugi Rp 50 ribuan. Itu cuma untuk satu akun, sedangkan saya kini mengelola 46 akun. Jadi bisa dibayangkan berapa kerugian dalam sehari, apalagi ini sudah masuk hari ketiga tapi belum ada tanda-tanda listrik menyala,” keluhnya, Minggu (4/11).

Supriade (21) salah satu mahasiswa di Kasongan menuturkan, pemadaman listrik sangat mengganggu padahal cukup banyak tugas perkuliahan yang harus segera dikerjakan.

“Kami turun kuliah pada hari Sabtu dan Minggu, jadi dosen kadang memberikan tugas yang cukup banyak. Bagaimana mau dikerjakan kalau baterai laptop saja habis, sedangkan selama pemadaman tidam ada warnet yang buka,” ujarnya.

Pun demikian dengan Dewi pengusaha depot air minum isi ulang di Jalan Soekarno – Hatta Kelurahan Kasongan Lama. Selama tiga hari pemadaman listrik, dirinya mengaku merugi sekitar Rp 800 ribu.

“Pakai genset (generator set) memang bisa, tapi tidak mungkin kita hidupkan seharian sebab yang beli tidak bisa dipastikan kapan datang ke depot. Belum lagi kerugian dari usaha jual es batu,” katanya.

Asharian Noor (23) menuturkan, satu-satunya tempat yang menyediakan fasilitas listrik selama 24 jam non stop cuma ada di kantor PT. Telkom cabang Kasongan. Selama pemadaman, fasilitas di gazebo wifi id selalu dipenuhi puluhan orang, mulai usia anak-anak hingga dewasa.

“Sudah tiga hari ini dari pukul 07.00 WIB sampai 23.00 WIB selalu ramai orang. Tujuan mereka bukan hanya menikmati jaringan internet super cepat saja, tapi sekaligus mengisi daya HP, laptop, hingga lampu charger. Karena colokan listrik terbatas, jadi tiap orang bawa terminal masing-masing,” jelasnya.

Abdul Gafur (45) menuturkan, hal yang paling krusial selama pemadam listrik adalah sulitnya mencari air untuk kebutuhan minum, mandi, dan cuci. Sebab tidak ada daya listrik untuk memompa air tanah.

“Berhubung genset di rumah rusak, akhirnya dibawa ke tukang service. Ternyata di sana juga banyak masyarakat yang mengantre. Akhirnya saya beli mesin genset baru seharga Rp 900 ribu, karena urusan mandi dan lain-lain tidak bisa ditunda-tunda,” tegasnya.

Dirinya berharap, suplai listrik ke wilayah Kabupaten Katingan segera normal. Mengingat PLN di daerahnya sejauh ini tidak memiliki pembangkit listrik mandiri, sehingga masih bergantung dari suplai PLN Kalsel-Teng.

“Kemarin saya dapat kabar bahwa hari ini (minggu, Red) listrik normal kembali, ternyata tidak kondisinya sama saja. Kasihan warga di sini yang jauh dari sungai mereka bingung mau cari air kemana, akhirnya saling pinjam genset saja,” pungkasnya. (BS)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: